Unsur Departemen Pendidikan Nasional (Perguruan Tinggi,
Direktorat Teknis, balitbang)
Unsur Departemen Agama
Unsur Organisasi Non Pemerintah
Unsur Dunia Usaha dan Industri yang bergerak di bidang
ICT
Unsur Persatuan Pelajar di luar Negeri
MODEL PERTEMUAN
Model pertemuan yang telah dilaksanakan berupa pertemuan
rutin tiap hari jum’at dan pertemuan tidak rutin berupa seminar atau lokakarya.
HASIL YANG INGIN DICAPAI
Fokus utama yang ingin dicapai
dari semua acara dan kegiatan ini adalah untuk mewujudkan “BLUE PRINT ICT
PENDIDIKAN”sebagai acuhan dalam membangun “One School One Lab” pada setiap
sekolah di indonesia. Dalam implementasi nanti, nampaknya bahwa pengadaan
seluruh perangkat One School One Lab tersebut dapat diwujudkan melalui
pembiayaan pemerintah dan swasta.
HASIL RAPAT
Pertemuan rutin jum’at, 4,
11, dan18:
a.Brain storming dan pengumpulan informasi dari masing-masing
instansi/lembaga atau organisasi yang hadir, khususnya berkaitan dengan
pengembangan SI (Sistim Informasi).
b.Mendiskusikan format blue print yang akan disusun dengan mengambil model
blue print yang dikembangkan oleh Negara Singapura, Thailand dan Malaysia.
c.Menyusun outline sementara dari rencana blue print yang akan disusun
d. Menugaskan peserta rapat, khususnya yang berasal dari Depdiknas dan
Departemen Agama untuk menginventarisir jumlah sekolah yang telah memiliki
perangkat computer dan kondisi dari computer tersebut.
e.Mendiskusikan Outline sementara untuk penyusunan blue print ICT
pendidikan yang sesuai dengan kondisi indonesia.
f.Menetapkan penyelenggaraan Semiloka untuk menghimpun masukan dari
berbagai pihak, terutama dari dunia Usaha/Industri ICT dalam penyusunan Blue
Print dan menjajagi kemungkinan kerjasama dalam bentuk bantuan dalam
merelisasikan “One School One Lab” pada pendidikan dasar dan menengah.
Seminar dan Lokakarya
(Selasa s.d Rabu, 29 dan 30 Juni 2004)
a)Sebagaimana yang telah diagendakan, acara ini difokuskan untuk menghimpun
masukan dari berbagai unsur, terutama dari perusahaan yang bergerak dalam bidang
ICT. Harapan semula, forum ini dapat menggiring
b)Dalam prakteknya, ternyata semua perusahaan ICT yang maju presentasi
lebih mempromosikan dagangannya daripada memberikan masukan. Menurut hemat saya,
kemungkinan salah persepsi antara keinginan tim Penyusun Blue Print dengan
harapan pengusaha dalam memanfaatkan forum Semiloka tersebut.
c)Dari semiloka juga diperoleh informasi bahwa belum semua vendor yang
bergerak di bidang ICT mampu menjangkau daerah – daerah terpencil di Indonesia
(khususnya luar jawa). Mereka lebih banyak bergerak di daerah jawa dan kota –
kota besar.
d)Dari kondisi nomor 3 (tiga), diputuskan bahwa pengembangan “One School
One Lab” akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan kemampuan
pembiayaan yang bisa dihimpun.
e)Pada kesempatan Semiloka, hadir perusahaan TELKOM, Mobile 8 Telekom, PSN
dan IM2, Sementara lembaga UNDP, ADB, JICA, UNESCO dan USAID tidak dapat hadir.
f)Kesepakatan semantara dari hasil diskusi Rabu, 30 Juni 2004 adalah untuk
menggunakan hasil rumusan yang disampaikan oleh Dr. Richardus Eko Indrajit,
sebagai acuan dalam menyusun Blue Print, disamping masukan-masukan lainya yang
relepan.
g)Karena keterbatasan anggaran donatur (Microsoft Indonesia) dalam
penyelengggaraan pertemuan-pertemuan ini, diputuskan bahwa pelaksanaan
berikutnya akan dilakukan secara bergilir di instansi-instansi peserta. Untuk
kasus ini, mohon kiranya pertimbangan Bapak Direktur apabila kita diminta
ketempatan.
h)Pertemuan rutin berikunya akan dilaksanakan di Kantor Kementrian
Komunikasi dan Informasi pada hari Jum’at, 16 Juli 2004.
KOMENTAR
Nampaknya pertemuan-pertemuan
penyusunan Blue Print ini sangat penting untuk kita, dengan harapan bahwa kita
tidak akan ketinggalan dalam pengembangan ICT pendidian di lingkungan PLB. Forum
ini juga ternytata bisa kita manfaatkan untuk memperkenalkan PLB pada
instansi-instansi lain.
Dari informasi pengembangan
ICT yang telah ada (WAN KOTA, JIS dan yang lainnya),ternyata PLB belum diikuti
sertakan di dalamnya. Hal ini terjadi karena ketidak tahuan dari mereka yang
mengembangkan dan masih ada anggapan bahwa PLB ada di luar lingkaran pendidikan
formal (PLS) sertakan dianggap tidak begitu pening keberadaanya.
Menanggapi kondisi tersebut,
saya telah berupaya semaksimal mungkin bahwa keberadaan PLB adalah penting dan
perlu diikuti sertakan dalam semua kegiatan pengembangan ICT pendidikan. Salah
satu upayannya adalah dengan memberikan semua informasi pembinaan PLB selama ini
dan penyerahan data PLB tahun terakhir kepada coordinator forum ini.
Kendala dalam mgikuti kegiatan
ini adalah, bahwa setiap peserta yang hadir harus siap untuk membiayaai semua
yang terkait dengan kepentingan peserta yang bersangkutan. Dengan kata lain,
pihak penyelenggara tidak menanggung biaya atas kehadiran para pesertanya (semua
biaya peserta).