|
KEGIATAN BELAJAR
MENGAJAR DI SEKOLAH INKLUSIF
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan belajar-mengajar merupakan inti dan pelaksanaan kurikulum
Baik-buruknya mutu pendidikan atau mutu lulusan dipengaruhi oleh mutu
kegiatan belajar-mengajar. Bila mutu lulusanya bagus dapat diproduksi
bagus mutu kegiatan belajar-mengajarnya juga bagus: atau sebaliknya, bila
mutu kegiatan belajar-mengajarnya bagus, maka mutu lulusannya juga akan
bagus.
Guru Sekolah Dasar (SD) selama ini disiapkan untuk mengajar siswa-siswi
yang ada di SD. Pada umumna para siswa di SD adalah anak-anak normal yang
tidak memiliki kelainan/penyimpangan yang signifikan (berarti) baik dalam
segi fisik. Intelektual, sosial, emosional, dan/atau sensoris. Mereka pada
umumnya memiliki kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, dan/atau
sensoris yang relatif homogen.
Seiring dengan kemajuan jaman, reformasi kelemhagaan yang melayani anak
berkelainan banyak dilakukan. Pada masa-masa sebelumya bentuk kelembagaan
yang melayani pendidikan bagi anak berkelainan masih banyak yang bersifat
segregasi atau terpisah dari masyarakat pada umumnya. Tetapi memasuki
akhir milenium dua, misi dan visi kelembagaan sudah cenderung kepada
bentuk integrasi. Suatu Bentuk dimana anak luar biasa atau para penyandang
cacat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan masyarakat pada umumnya.
Muncul berbagai istilah yang berhubungan dengan bentuk kelembagaan dan
layanan pendidikan yang diperuntukkan bagi mereka, Seperti normalisasi,
dan integrasi, mainstreaming, least restrictive environment,
institusionalisasi, dan ink/usi. Dewasa ini, ink/usi merupakan. salah satu
bentuk layanan pendidikan bagi anak berkelainan yang dipandang ideal untuk
dilaksanakan sesuai dengan Pernyataan Sa1amanca.
Di Sekolah inklusif para siswa memilik kemampuan yang heterogen, karena
para siswanya di samping anak-anak normal juga terdapat anak-anak
berkelainan yang memiliki beragam kelainan/penyimpangan, baik fisik,
intelektual, sosial, emosional, dan/atau sensoris neurologis.
Mengajar anak-anak yang memiliki kemampuan heterogen berheda dengan
mengajar anak-anak yang memiliki kemampuan homogen. Para guru SD, pada
umumnya merasa kurang mampu mengajar anak-anak yang memiliki kemampuan
heterogen di kelas inklusif karena ketika mereka sekolah/kuliah di lembaga
pendidikan guru baik SPG, PGSD, maupun LPTK lainnya tidak dibekali dengan
berbagai pengetahuan dan keterampilan agar mampu untuk mengajar di kelas
inklusif.
Sehuhungan dengan permasalahan di atas, maka disusun Buku Kegiatan
Belajar Mengajar, yang diharapkan dapat dipergunakan oleh para guru dan
praktisi pendidikan lainnya sebagai acuan dalam merancang, melaksanakan,
dan mengevaluasi kegiatan Belajar-mengajar kelas inklusif.
B. Tujuan Penulisan Buku
Buku ini ditulis dengan tujuan sebagai bahan acuan bagi para pembaca,
terutama para pembina dan pelaksana pendidikan di lapangan. dalam
merancang, melaksanakan. dan mengevaluasi kegiatan belajar-mengajar kelas
inklusif.
II. PERENCANAAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
A. Rancangan Pembelajaran
Kegiatan belajar-mengajar hendaknya dirancang sesuai dengan kemampuan
dan karakteristik siswa, serta mengacu kepada kurikulum yang telah
dikembangkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang kegiatan
belajar mengajar pada kelas inklusif antara lain seperti di bawah ini.
1. Merencanakan Kegiatan Belajar Mengajar
- Merencanakan pengelolaan kelas
- Merencanakan pengorganisasan bahan
- Merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar
- Merencanakan penggunaan sumber belajar
- Merencanakan penilaian
2. Melaksanakan Kegiatan belajar Mengajar
- Menyajikan materi/bahan pelajaran
- Mengimplementasikan metode, sumber belajar dan bahan latihan yang
sesuai dengan kemampuan awal dan karakterisitik siswa, serta sesuai
dengan tujuan pembelajaran
- Mendorong siswa untuk terlihat secara aktif
- Mcndemonstrasikan penguasaan materi pelajaran dan relevansinya dalam
kehidupan
- Mengelola waktu, ruang, bahan, dan perlengkapan pengajaran.
3. Membina Hubungan Antarpribadi
- Bersikap terbuka, toleran, dan simpati terhadap siswa
- Menampilkan kegairahan dan kesungguhan
- Mengelola interaksi antarpribadi
4. Melaksanakan Evaluasi
- Melakukan penilaian selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung,
baik secara lisan tertulis, maupun melalui pengamatan
- Mengadakan tindak lanjut.
B. Prinsip-prinsip Pembelajaran
Kegiatan belaiar-mengajar dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara
efektif dan efisien guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran
prinsip-prinsip pembelajaran di kelas inklusif secara umum sama dengan
prinsip- prinsip pembelajaran yang berlaku bagi anak pada umumnya. Namun
demikian, karena di dalam kelas inklusif terdapat anak berkelainan yang
mengalami kelainan/penyimpangan baik fisik, intelektual, sosial, emosional
dan/atau sensoris neurologis dibanding dengan anak pada umumnya, maka guru
yang mengajar di kelas inklusif di samping menerapkan prinsip-prinsip umum
pembelajaran juga harus mengimplementasikan prinsip-prinsip khusus sesuai
dengan kelainan anak.
1. Prinsip Umum
a. Prinsip Motivasi
Guru harus senantiasa memberikan motivasi kepada sisa agar tetap
memiliki gairah dan semangat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan
belajar-mengajar.
b. Prinsip Latar/Koteks
Guru perlu mengenal siswa secara mendalam, menggunakan contoh,
memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar, dan semaksimal
mungkin menghindari pengulangan-pengulangan materi pengajaran yang
sebenarnya tidak terlalu penuh bagi anak.
c. Prinsip Keterarahan
Setiap akan melakukan kegiatan pembelajaran, guru harus merumuskan
tujuan secara jelas. rnenapkan hahan dan alat ang sesual serta
mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat.
d. Prinsip Hubungan Sosial
Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru perlu mengembangkan strategi
pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa,
siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan lingkungan, serta interaksi
banyak arah.
e. Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Dalam kegiatan pembelajaran, guru harus banyak memberi kesempatan
kepada anak untuk melakukan praktek atau percobaan atau menemukan seseatu
melalui pengamatan, penelitian, dan sebagainya.
f. Prinsip Individualisasi
Guru perlu mengenal kemampuan awal dan karakteristik setiap anak secara
mendalam baik dari segi kemampuan maupun ketidakmampuannya dalam menyerap
materi pelajaran. kecepatan maupun kelambatannya dalam belajar, dan
perilakunya, sehingga setiap kegiatan pembelajaran masing-masing anak
mendapat perhatian dan perlakuan yang sesuai.
g. Prinsip Menemukan
Guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu memancing
anak untuk terlihat secata aktif baik fisik, mental, sosial, dan/atau
emosional.
h. Prinsip Pemecahan Masalah
Guru hendaknya sering mengajukan berbagai persoalan/problem yang ada di
lingkungan sekitar, dan anak dilatih untuk merumuskan, mencari data,
menganalisis, dan memecahkannya sesuai dengan kemampuan.
2. Prinsip Khusus
a. Tunanetra
1) Prinsip Kekonkritan
Anak tunanetra belajar terutama melalui pendengaran dan perabaan. Bagi
mereka untuk mengerti dunia sekelilingnya harus bekerja dengan benda-benda
konkrit yang dapat diraba dan dapat dimanipulasikan Melalui observasi
perabaan benda-benda riil, dalam tempatnya yang alamiah, mereka dapat
memahami bentuk, ukuran, berat, kekerasan, sifat-sitat permukaan,
kelenturan, suhu, dan sebagainya.
Dengan menyadari kondisi seperti ini, maka dalam proses
belajar-mengajar guru dituntut semaksimal mungkin dapat menggunakan
benda-benda konkrit (baik asli maupun tiruan) sebagai alat bantu atau
media dan sumber belajar dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran.
2) Prinsip Pengalaman yang Menyatu
Pengalaman visual cenderung menyatukan informasi. Seorang anak normal
yang masuk ke toko, tidak saja dapat melihat rak-rak dan benda-benda riil,
tetapi juga dalam sekejap mampu melihat huhungan antara rak-rak dengan
benda-benda di ruangan. Anak tunanetra tidak mengerti hubungan-huhungan
ini kecuali jika guru menyajikannya dengan mengajar anak untuk “mengalami”
suasana tersehut secara nyata dan menerangkan huhungan-huhungan tersebut.
3) Prinsip Belajar Sambil Melakukan
Prinsip ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan prinsip belajar sambil
berkerja. Perbedaannya adalah, bagi anak tunanetra, melakukan sesuatu
adalah pengalamanya nyata yang tidak mudah terlupakan seperti anak normal
melihat sesuatu sebagai kebutuhan utama dalam rnenangkap informasi. Anak
normal belajar mengenai keindahan lingkungan cukup hanya dengan melihat
gambar atau foto. Anak tunanetra menuntut penjelasan dan penjelajahan
secara langsung di lingkungan nyata.
Prinsip ini menuntut guru agar dalam proses belajar-mengajar tidak hanya
bersifat informatif akan tetapi semaksimal mungkin anak diajak ke dalam
situsi nyata sesuai dengan tuntutan tujuan yang ingin dicapai dan bahan
yang diajarkannya.
b. Tiinarungu/Gangguan Komunikasi
1) Prinsip Keterarahanwajah
Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengarannya (kurang
dengar atau bahkan tuli), Sehingga organ pendengarannya kurang/tidak
berfungsi dengan baik. Bagi yang sudah terlatih, mereka dapat
berkomunikasi dengan orang lain dengan cara melihat gerak bibir (lip
reading) lawan bicaranya. Oleh karena itu ada yang menyebut anak tunarungu
dengan istilah “pemata’, karena matanya seolah-olah tanpa berkedip melihat
gerak bibir lawan bicaranya.
Prinsip ini menuntut guru ketika memberi penjelasan hendaknya menghadap
ke anak (face to face) sehingga anak dapat melihat gerak bibir
guru. Demikian pula halnya dengan anak yang mengalami gangguan komunikasi,
karena organ bicaranya kurang berfungsi sempurna, akibatnya bicaranya
sulit dipahami (karena kurang sempurna) oleh lawan bicaranya. Agar guru
dapat memahaminya, maka anak diminta menghadap guru (face to face) ketika
berbicara.
2) Prinsip Keterarahansuara
Setiap kali ada suara/bunyi, pasti ada sumber suara/bunyinya. Dengan
sisa pendengarannya, anak hendaknya dibiasakan mengkonsentrasikan sisa
pendengarannya ke arah sumber suara/bunyi, sehingga anak dapat merasakan
adanya getaran suara, Suara/bunyi yang dihayatinya sangat membantu proses
belajar-mengajar anak terutama dalam pembentukan sikap, prihadi, tingkah
laku, dan perkembangan bahasanya.
Dalam proses belajar-mengajar, ketika berbicara guru hendaknya
rnenggunakan lafal/ejaan yang jelas dan cukup keras, sehingga arah
suaranya dapat dikenali anak.
Demikian pula, bagi anak yang mengalami gangguan komunikasi, agar
bicaranya dapat dipahami oleh lawan bicaranva maka anak hendaknya ketika
berbicara selalu menghadap ke lawan bicaranya agar suaranya terarah.
3) Prinsip Keperagaan
Anak tunarungu karena mengalami gangguan organ pcndengarannya maka
mereka lebih banyak menggunakan indera penglihatannya dalam belajar.
Oleh karena itu, proses belajar-mengajar hendaknya disertai peragaan (menggunakan
alat peragaan) agar lebih mudah dipahami anak. disamping dapat menarik
perhatian anak.
c. Anak Berbakat
1) Prinsip Percepatan (AkseIeras) Be1ajar
Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan (intelegensi),
kreatvitas, dan tanggung jawab (task commitmeni) terhadap tugas di atas
anak-anak seusianya. Salah satu karakteristik yang sangat menonjol adalah
mereka memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar anak seusianya.
Dengan diterangkan sekali saja oleh guru. mereka telah dapat menangkap
maksudnya: sementara anak-anak yang lainnya masih perlu dijelaskan lagi
oleh guru. Pada saat guru mengulangi penjelasan kepada teman-temannya itu,
mereka memiliki waktu tertuang. Bila tidak diantisipasi oleh guru,
kadang-kadang waktu tertuang ini dimanfaatkan untuk aktivitas
sekehendaknya., misalnya melempar benda-benda kecil kepada teman dekatnya.
mencubit teman kanan-kirinya, dan sebagainya.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki, dalam proses
belajar-mengajar hendaknya guru dapat memanfaatkan waktu luang anak
berbakat dengan memberi materi penilaian tambahan (materi pelajaran
berikutnya). Sehingga kalau terakumulasi semua, mungkin materi pelajaran
selama satu semester dapat selesai dalam waktu 4 bulan: materi 1 tahun
selesai dalam waktu 8 bulan: materi 6 tahun selesai dalam waktu 4 tahun.
Hal disebut dengan istilah percepatan (akselerasi) belajar.
2) Prinsip Pengayaan (Enrichment)
Ada anak berhakat yang tidak tertarik dengan program percepatan belajar
Mereka kurang berminat mempelajari materi di atasnya (berikutnya)
mendahului teman-temannya. Mereka merasa lehih enjoy dan fun dengan tetap
mempelajari materi yang sama dengan teman sekelasnya, namun diperdalam dan
diperluas dengan mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi (analisis.
sintesis. evaluasi, dan pemecahan masalah), tidak hanya mengembangkan
proses berfikir tingkat rendah (pengetahuan dan pemahaman), karena anak
berbakat lebih menonjol dalam proses berfikir tingkat tinggi tersebut.
Hal ini menuntut guru agar dalam kegiatan betajar mengajar dapat
rnemanfaatkan waktu luang anak berbakat dengan cara memberi
program-program pengayaan kepada mereka, dengan mengemhangkan proses
berfikir tingkat tinggi seperti di atas.
d. Tunagrahita/Anak lamban belajar (Slow learner)
I) Prinsip Kasih Sayang
Tunagrahita/anak lamban belajar adalah anak yang mengalami kelainan/penyimpangan
dalam segi intelektual (inteligensi), yakni inteligensinya di bawah
rata-rata anak seusianya (di bawah normal). Akibatnya, dalam tugas-tugas
akademik yang menggunakan intelektual, mereka senang mengalami kesulitan.
Oleh karena itu. kadang-kadang guru merasa jengkel karena diberi tugas
yang menurut perkiraan guru sangat mudah sekalipun. mereka tetap saja
kesulitan dalam menyelesaikannya.
Untuk itu, mengajar anak tunagrahita/lamban belajar membutuhkan kasih
sayang yang tulus dan guru. Guru hendaknva berbahasa yang lembut, tercapai
sabar, rela berkorban, dan memberi contoh perilaku yang baik ramah, dan
supel, sehingga siswa tertarik dan timbul kepercayaan yang pada akhirnya
bersemangat untuk melakukan saran-saran dan guru.
2) Prinsip Keperagaan
Kelemahan anak Tunagrahita/lamban belajar antara lain adalah dalam hal
kemampuan berfikir abstrak, Mereka sulit membayangkan sesuatu. Dengan
segala keterbatasannya itu, siswa tunagrahita/lamban belajar akan lebih
mudah tertarik perhatiannva apabila dalam kegiatan belajar-mengajar
menggunakan benda-benda konkrit maupun berbagai alat peraga (model) yang
sesuai.
Hal ini menuntut guru agar dalam kegiatan belajar mengajar selalu
rnengaitkan relevansinya dengan kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena
itu, anak perlu di bawa ke lingkungan nyata, baik lingkungan fisik,
lingkungan sosial, maupun lingkungan alam. Bila tidak memungkinkan, guru
dapat membawa berhagai alat peraga.
3) Prinsip Habilitasi dan Rehabilitasi
Meskipun dalam bidang akademik anak tunagrahita memiliki kemampuan yang
terbatas, namun dalam bidang-bidang lainnya mereka masih memiliki
kemampuan atau potensi yang masih dapat dikembangkan.
Habilitasi adalah usaha yang dilakukan seseorang agar anak menyadari
bahwa mereka masih memiliki kemampuan atau potensi yang dapat dikembangkan
meski kemampuan atau potensi tersebut terbatas.
Rehabilitasi adalah usaha yang dilakukan dengan berbagai macam bentuk
dan cara, sedikt demi sedikit mengembalikan kemampuan yang hilang atau
belum berfungsi optimal.
Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru hendaknya berusaha mengembangkan
kemampuan atau potensi anak seoptimal mungkin. melalui berbagai cara yang
dapat ditempuh.
e. Tunadaksa
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaraan bagi anak tunadaksa
tidak lepas dan juga bentuk pelayanan, yaitu: (1) pelayanan medik, (2)
pelayanan pendidikan. dan (3) pelayanaan sosial, yang pada dasarnya juga
tidak dapat lepas dengan prinsip habilitasi dan rehahilitasi di atas.
f. Tunalaras
1). Prinsip Kebutuhan dan Keaktifan
Anak tunalaras selalu ingin memenuhi kebutuhan dan keinginannya tanpa
memperdulikan kepentingan orang lain. Untuk memenuhi Kebutuhannnya itu, ia
menggunakan kesempatan yang ada tanpa mengingat kepentingan orang lain.
Kalau perlu melanggar semua peraturan yang ada meskipun ia harus mencuri
misalnya. Hal ini jelas merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.
Oleh karena itu, guru harus memberi keaktifan kepada siswa supaya
kebutuhannya terpenuhi dengan mempertimbangkan norma-norma kemasyarakatan,
agama, peraturan perundangan-undangan yang berlaku, segingga dalam
memenuhi keinginan dan kebutuhannya tidak merugikan diri sendiri maupun
orang lain.
2) Prinsip Kebebasan yang Terarah
Anak tunalaras memiliki sikap tidak mau dikekang. Ia selalu menggunakan
peluang yang ada untuk berbuat sesuatu sehingga hatinya merasa puas. Oleh
karena itu, guru harus berhati-hati ketika akan melarangnya. Nasehatilah
kalau memang perlu dilarang. Di samping itu, guru hendaknya mengarahkan
dan menyalurkan segala perilaku anak ke arah positif yang berguna, baik
untuk diri sendiri maupun orang lain.
3) Prinsip Penggunaan Waktu Luang
Anak tunalaras biasanya tidak bisa diam, dia termasuk hiperaktif. Ada
saja yang dikerjakan. Bahkan solah-olah mereka kekurangan waktu sehingga
lupa tidur, istirahat, dan sebaginya. Oleh karena itu, guru harus
membimbing anak degan mengisi waktu luangnya untuk kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat.
4) Prinsip Kekeluargaa dan Kepatuhan
Anak tunalaras berasal dari keluarga yang tidak harmonis, hubungan
orang tua retak (broken home). Akibatnya emosinya tidak laras, jiwanya
tidak tenang, rasa kekeluargaannyatidak berkembang, merasa hidupnya tidak
berguna. Akibat lebih jauh mereka bersifat perusak, benci kepada orang
lain.
Oleh karena itu, guru harus dapat meyelami jiwa anak, dimana letak
ketidakselarasaan kehidupan emosinya. Selanjutnya, mengembalikannya kepada
kehidupan emosi yang tenang, laras, sehingga rasa kekeluargaanya menjadi
pulih kembali. Misalnya siswa disuruh membaca cerita yang edukatif,
memelihara binatang, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
5) Prinsip Setia Kawan dan Idola serta Perlindungan
Karena tinggal di rumah tidak tahan, anak tunalaras biasanya lari
keluar rumah. Kemudian ia bertemu dengan orang-orang (kelompok) yang
dirasa dapat memebuat dirinya merasa aman. Di dalam kelompok tersebuat ia
merasa menemukan tempat berlindung menggantikan orang tuanya, ia merasa
tentram, timbul rasa setia kawan. Karena setianya kepada kelompok, ia
berbuat apa saja sesuai perintah katua kelompoknya yang dijadikan idolanya.
Oleh karena itu, guru hendaknya secara perlahan-lahan berupaya
menggantikan posisi ketua kelompoknya, menjadi tokoh idola siswa, dengan
cara melindungi siswa, dan berangsur-angsur kelompoknya berganti dengan
teman-teman sekelasnya, dan setia kawannya berganti kepada teman-teman
sekelasnya, yang pada akhirnya mereka akan merasa senang bersekolah.
6) Prinsip Minat dan Kemampuan
Guru harus memperhatikan minat dan kemampuan anak terutama yang
berhubungan dengan pelajaran. Jangan sampai karena tugas-tugas (PR) yang
diberikan oleh terlalu banyak, akhirnya justru mereka benci kepada guru
atau benci kepada pelajaran tertentu. Sebaliknya, guru harus menggali
minat dan kemampuan siswa terhadap pelajaran, untuk dijadikan dasar
memberi tugas-tugas tertentu. Dengan memberi tugas yang sesuai, mereka
akan merasa senang, yang pada akhirnya lama-kelamaan mereka akan terbiasa
belajar.
7) Prinsip Emosional, Sosial, dan Perilaku
Karena problem emosi yang disandang anak tunalaras, maka ia mengalami
ketidakseimbangan emosi. Akibatnya siswa berprilaku menyimpang baik secara
individual maupun secara sosial dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
Oleh karena itu, guru harus berusaha mengidentifikasi problem emosi yang
disandang anak, kemudian berupaya menghilangkannya untuk diganti dengan
sifat-sifat yang baik sesuai dengan norma-norma yang erlaku di masyarakat
dan agama, dengan cara diberi tugas-tugas tertentu yang terpuji, baik
secara individual maupun secara kelompok.
8) Prinsip Disiplin
Pada umumnya anak tunalaras ingimn memanfaatkan kesempatan yang ada
untuk memenuhi keinginannya,tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku,
sehingga ia hidup lepas dari disiplin. Sikap ketidaktaatan dan lepas dari
aturan merupakan sikap hidupnya sehari-hari.
Oleh karena itu, guru perlu membiasakan siswa untuk hidup teratur
dengan selalu diberi keteladanan dan pembinaan dengan sabar.
9) PrinsipKasih Sayang
Anak tunalaras umumnya haus akan kasih sayang, baik dari orang tua
maupun dari keluarganya. Akibatnya anak akan selalu mencari kasih sayang
dan menumpahkan keluhannya di luar rumah. Kalau ia tidak menemukannya akan
menjadi agresif, cenderung hiperaktif, atau sebaliknya ia menjadi rendah
diri, pendiam, atau meyendiri.
Oleh karena itu, guru supaya mendekati anak dengan penuh kasih sayang,
kesabaran, sehingga kekosongan jiwa anak akan teisi atau terobati.
Akibatnya, anak akan rajin ke sekolah karena merasa ada tempat untuk
mencurahkan perasaanya. Pada akhirnya mereka akan menuruti nasehat guru
untuk rajin belajar.
III. PELAKSANAAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Peksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas inklusif secara umum sama
dengan pelaksanaan kegiaan belajar-mengajar di kelas reguler. Namun
demikian. karena di dalam kelas inklusif di samping terdapat anak normal
juga terdapat anak luar biasa yang mengalami kelainan/penyimpangan (baik
phisik, intelektual, sosial, emosional, dan/atau sensoris neurologis)
dibanding dengan anak normal, maka dalam kegiatan belajar-mengajar guru
yang mengajar di kelas inklusif di samping menerapkan prinsip-prinsip umum
juga harus mengimplementasikan prinsip-prinsip khusus sesuai dengan
kelainan anak.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar hendaknya disesuaikan
dengan model penempatan anak luar biasa yang dipilih. Seperti dijelaskan
pada
Mengenal Pendidikan Inklusif, penempatan anak luar biasa di sekolah
inklusif dapat dilakukan dengan berbagai model sebagai berikut:
1. Kelas reguler (inklusi penuh)
2. Kelas reguler dengan cluster
3. Kelas reguler dengan ull out
4. Kelas reguler dengan cluster dan pull out
5. Kelas khusus dengan berhagai pengintegrasian
6. Kelas khusus penuh.
Kegiatan belajar mengajar di kelas inklusif akan berbeda baik dalam
srategi, kegiatan media, dan metoda. Beberapa kegiatan belajar mungkin
dilakukan berdasarkan literatur-literatur tertentu, sementara yang lainyna
belajar yang sama akan lebih efektif apabila melalui observasi dan
eksperimen. Beberapa anak memerlukan alat bantu tulis untuk mengingat
sesuatu, mungkin yang lainnya cukup dengan hanya mendengarkan. Beberapa
sisa mungkin memerlukan kertas dari pensil untuk mengingat suatu hubungan
tertentu. sementara beberapa sisa lainnya cukup mengingat dengan hanya
melihat saja. Beberapa sisa mungkin lebih senang belajar secara
individual, sedangkan yang lainnya lebih senang secara berkelompok, Hilda
Taba mengemukakan, bahwa berbedanya kebutuhan individu berbeda pula di
dalam teknik belajar dalam upaya mengemhangkan dirinya. Dewasa ini
isitilah strategi belajar banyak dipergunakan di dalam teori kognitif dan
penelitian. Hal itu berhuhungan dengan strategi individu dalam hal
pemusatan perhatian, pemecahan rnasalah. mengingat dan mengawasi proses
belajar dan pemecahan masalah.
Hambatan belajar dapat berasal dan kesulitan menentukan strategi
belajar dan metoda belajar lainnya sebagai akibat dan faktor-faktor
biologis, psikologis, lingkungan, atau gabungan dan beberapa faktor
tersebut. Sebagai contoh gangguan sensori seperti hilangnya penglihatan
atau pendengaran, merupakan hambatan dalam memperoleh masukkan informasi
dan luar berfungsi minimal otak mungkin akan berakibat yang cukup serius
terhadap konsentrasi.
Pelaksanaan kegiatan belajar menjadi model kelas tertentu mungkin
berbeda dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada model kelas yang
lain. Pada model Kelas Reguler (Inklusi Penuh), bahan belajar antara anak
luar biasa dengan anak normal mungkin tidak berbeda secara signifikan
namun pada model Kelas Reguler dengan Cluster, bahan belajar antara anak
luar biasa dengan anak normal biasanya tidak sama, bahkan antara sesama
anak luar biasa pun dapat berbeda. Oleh karena itu, setelah ditetapkan
model penempatan anak luar biasa, yang perlu dilakukan berikutnya dalam
pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar pada kelas inklusif antara lain
seperti di bawah ini.
A. Merencanakan Kegiatan Belajar Mengajar
1. Merencanakan Pengelolaan Kelas
- Menentukan ruang kelas sesuai dengan tujuan pembelajaran
- Menentukan cara pengorganisasian siswa agar setiap siswa dapat
terlihat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya:
- Individual
- Berpasangan
- Kelompok kecil
- Kalsikal
2. Merencanakan Pengorganisasian Bahan
- Menetapkan bahan utama (pokok) yang akan diajarkan
- Menentukan bahan pengadaan untuk siswa yang pandai
- Menentukan hahan remidi uiuuk sisa sang kurang pandat.
3. Merencanakan Pengelolaan Kegitaan Belajar Mengajar
- Merumuskan tujuan pembelajaran
- Menentukan metode mengajar
- Menentukan urutan/langkah-langkah mengajar, misalnya:
• Pembukaan/apersepsi
• Kegiatan ini
• Penutup/evaluasi
4. Merencanakan Penggunaan Sumber Belajar
- Menentukan sumber bahan pelajaran (misalnya Buku Paket, Buku
Pelengkap, dan sebagainya)
- Menentukan sumber belajar (misalnya globe, foto, benda asli, benda
tiruan, lingkungan alam, dan sebagainya)
5. Merencanakan Penilaian
- Menentukan bentuk penilaian (misalnya tes lisan, tes tertulis, tes
perbuatan)
- Membuat alat penilaian (menuliskan soal-soalnya)
- Menentukan tindak lanjut.
B. Melasanakan Kegiatan Belajar Mengajar
1. Berkomunikasi dengan Siswa
- Melakukan apersepsi
- Menjelaskan tujuan mengajar
- Menjelaskan isi/materi pelajaran.
- Mengklarifikasi penjelasan apabila siswa salah mengerti atau belum
paham.
- Menanggapi respon atau pertanyaan siswa
- Menutup pe1ajaran (misalnya merangkum, meringkas, menyimpulkan,
dan sebagainya)
2. Mengimplementasaikan Metode, Sumber Belajar, dan Bahan Latihan
yang sesuai dengan tujuan Pembelajaran.
- Menggunakan metode mengajar yang bervariasi (misalnya ceramah, tanya
jawab, diskusi, pemberian tugas, dan sebagainya)
- Menggunakan berbagai sumber belajar (misalnya globe, foto, benda
asli, benda tiruan, lingkungan alam, dan sebagainya)
- Memberikan tugas/lauhan dengan memperhatikan perhedaan individual
- Menggunakan ekspresi lisan dan/atau penjelasan tertulis yang dapat
mempermudah siswa untuk memahami materi yang diajarkan.
3. Mendorong Siswa untuk Terlibat Secara Aktif
a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk terlihat secara aktif (misalnya
dengan mengajukan pertanyaan, memberi tugas tertentu, mengadakan percohaan
berdiskusi secara berpasangan atau dalam kelompok kecil, belajar
berkooperatif)
b. Memberi penguatan kepada siswa agar terus terhihat secara aktif
c. Memberikan pengayaan (tugas-tugas tambahan) kepada siswa yang pandai
d. Memberikan latihan-latihan khusus (remidi) bagi siswa yang dianggap
memerlukan.
4. Mendemostrasikan Penguasaan Materi Pelajaran dan Relevansinya
dalam Kehidupan.
- Mendemostrasikan Penguasaan materi pelajaran secara meyakinkan (tidak
ragu-ragu)
- Menjelaskan relevansinya materi pe1ajaran yang sedang dipelajari
dengan kehidupan sehari-hari.
5. Mengelola Waktu, Ruang, Bahan, dan Perlengkapan Pengajaran
- Menggunakan waktu pengajaran secara efektif sesuai dengan yang
direncanakan.
- Mengelola ruang kelas sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan
pembelajaran.
- Menggunakan bahan pengajaran (misalnya bahan praktikum) secara
etisien
- Menggunakan pertengkapan pengajaran (misalnya peralatan percohaan)
secara efektifdan efisien.
6. Melakukan Evaluasi
- Melakukan penilaian selama kegiataan belajar-mengajar berlangsung (baik
secara lisan, tertulis, maupun pengamatan)
- Mengadakan tindak lanjut hasil penilaan.
C. Pembina Hubungan Antarpribadi
1. Bersikap Terbuka Toleran, dan Simpati terhadap Siswa
- Menunjukkan sikap terbuka (misalnya mendengarkan, menerima, dan
sebagainya terhadap pendapat sisa
- Menunjukkan sikap toleran (mau mengerti) terhadap siswa
- Menunjukkan sikap simpati (misalnya menunjukkan hasrat untuk
memherikan bantuan) terhadap permasalahan/kesulitan yang dihadapi siswa
- Menunukkan sikap sahar (tidak niudah marah dan kasib sayang terhadp
siswa.
2. Menampilkan Kegairahan dan Kesungguhan
- Menunjukkan kegairahan dalam mengajar
- Merangsang minat siswa untuk belajar
- Memberikan kesan kepada siswa bahwa ia menguasai bahan yang
diajarkan
3. Mengelola lnteraksi Antarpribadi
- Memberikan ganjaran (reward) terhadap siswa yang herhasil
- Memberikan bimbingan khusus terhadap siswa yang belum berhasil
- Memberikan dorongan agar terjadi interaksi antarsiswa
- Memberikan dorongan agar terjadi interaksi anatara siswa dengan guru
|